IMG_2480.jpeg

•••

Di pagi yang hampir mendekati siang ini Ailee terbangun dengan sakit disekujur tubuhnya. Rasa lengket pada tubuhnya serta tangan kekar Eithan yang melingkar posesif di pinggangnya membuat kedua pipi Ailee bersemu. Apa yang terjadi tadi malam ternyata memang betul adanya, Ailee sedang tidak bermimpi.

Sesaat perasaan takut menghampiri hatinya, Ailee takut kalau suatu saat nanti harus menerima kenyataan pahit setelah keduanya berjalan sejauh ini. Padahal, disisa kesadarannya kemarin, Ailee masih mempunyai kemungkinan besar untuk menolak Eithan dan pergi meninggalkannya di pantai. Tapi saat pagutan bibir Eithan menenggelamkan hampir seluruh kesadaran dirinya, Ailee akui bahwa dia terlalu bodoh untuk ikut hanyut akan sebuah nafsu yang Eithan beri.

Lagi, Ailee bertanya pada dirinya, apakah ini hal yang benar? Sebab mau bagaimanapun, keduanya telah sah, terikat oleh pernikahan yang dimana fakta itu selalu menjadi jawaban yang hinggap di kepalanya saat dia bertanya tentang benar dan salah.

Baru saja Ailee bawa pinggangnya untuk bergerak sedikit, sakit dibagian bawahnya langsung menciptakan ringisan yang cukup kuat.

Tanpa sadar, erangannya itu membangunkan laki-laki yang tengah setia memeluknya sejak malam. “Ngh- morning, love.

Suara serak dan berat khas bnagun tidur milik Eithan membuat Ailee tanpa sadar menggigit bagian bawah bibirnya cukup kuat.

Morning, Je.”

Berbeda dengan Eithan, suara yang Ailee udarakan terdengar seperti cicitan. Bersamaan dengan itu, tubuhnya Ailee bawa untuk semakin meringkuk saat pelukan di pinggangnya terasa melonggar.

Sadar akan keanehan yang Ailee tunjukkan, Eithan lantas berusaha menarik serta membalikkan tubuh Ailee untuk menghadap ke arahnya dengan selembut mungkin.