IMG_2404.jpeg

•••

Butuh sekitar tiga tahun untuk Ailee dan Eithan bisa merasakan kembali euforia yang dulu selalu tercipta dan hadir diantara keduanya. Tidak pernah terpikir baik oleh Ailee maupun Eithan akan hubungan yang kembali membaik seperti ini, setelah sekian lama hanya menyimpan luka. Rasanya benar-benar terasa tidak nyata.

Apalagi saat tubuh lebih mungil miliknya sudah polos tanpa sehelai benang di atas ranjang hotel dengan Eithan yang mengukung dia diatasnya. Ailee tidak tahu kapan dirinya dan Eithan sudah berada di dalam kamar hotel dengan posisi seperti ini. Terakhir, saat sadar yang masih bisa dia pertahankan, dirinya masih berada di bibir pantai, menikmati bulan purnama dengan Eithan yang mulai memagut kasih, menciuminya tanpa ingin memberi jeda untuk Ailee dapat menarik nafas barang sejenak saja.

Ciuman itu saat ini bahkan semakin membuat Ailee pusing setelah keduanya sudah berada di atas ranjang dengan tubuhnya yang sudah polos tanpa sehelai benangpun, sedangkan laki-laki yang mengukungnya masih lengkap dibalut pakaian yang membalut tubuh kekarnya.

Panggutan demi panggutan semakin membuat suhu diruangan terasa lebih panas, ciuman yang tadinya penuh cinta berubah menjadi ciuman yang menuntut. Bibir mereka saling mengejar satu sama lain, seperti orang yang sedang kehausan.

Saat Eithan sadari Ailee sudah hampir kehabisan nafas, dia pun akhirnya menyudahi ciuman mereka. Matanya menatap sayu ke arah laki-laki yang berada dibawahnya, lewat matanya Eithan dapat melihat pemandangan Ailee yang berantakan dengan bibirnya yang bengkak terlihat mengkilap terselimuti saliva milik keduanya dan pipinya yang memerah padam, membuat Eithan tersenyum ditengah nafasnya yang juga tidak kalah memburu dari Ailee.

Setelahnya, Eithan bubuhkan kecupan-kecupan ringan pada bibir, dagu sampai ke leher. Ailee dongakkan lehernya, memberi akses lebih agar Eithan dapat lebih leluasa menjamah bagian lehernya.

Erangan tertahan Ailee mengiringi kegiatan mereka, hembusan nafas serta tekstur kenyal bibir Eithan menggelitik leher miliknya.

AHH!” Ailee berjengit merasakan Eithan menggigit kecil lalu menghisap lehernya yang Ailee yakini akan meninggalkan bekas kemerahan untuk beberapa hari kedepan.

Eithan sudahi permainannya dileher laki-laki manis itu, lalu kembali menatap Ailee yang berada dibawahnya dengan keadaan yang terlihat sanhat kacau. Lehernya penuh dengan ‘love bite’ akibat ulahnya tadi.